top of page

Ngaji Budaya Probolinggo : Keris, Tradisi, dan Spirit Leluhur Berpadu

  • Writer: IPred
    IPred
  • Mar 15
  • 3 min read

Peserta saat Melihat Sejumlah Koleksi Keris yang Dipamerkan
Peserta saat Melihat Sejumlah Koleksi Keris yang Dipamerkan

INFOPRO, Probolinggo - Suasana hangat, akrab dan berpadu terasa dalam gelaran Ngaji Budaya dan Pameran Pusaka Nusantara 2026 yang digelar di Rumah Budaya Roma Sondhuk, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo selama dua hari, Sabtu–Minggu (14–15 Maret 2026).

‎Acara ini bukan sekadar pameran biasa. Mulai dari pameran pusaka Nusantara, dialog budaya, sampai pertunjukan seni tradisional hadir jadi ruang refleksi bareng tentang pentingnya menjaga warisan budaya di tengah gempuran era modern yang serba cepat.

‎Founder Rumah Budaya Roma Sondhuk sekaligus penggagas acara, Nur Syamsi Zakariya, mengatakan Ngaji Budaya tahun ini sengaja dibuat lebih berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

‎Kalau dulu fokusnya hanya diskusi budaya, kali ini konsepnya dibuat lebih “hidup” dengan menghadirkan langsung pameran pusaka Nusantara.

Pengunjung bisa melihat dari dekat berbagai peninggalan leluhur seperti keris, tombak, hingga pusaka bersejarah yang sarat filosofi.

‎“Artinya selain diskusi, kita juga bisa menyaksikan langsung warisan kebudayaan itu sendiri. Di sini ada pusaka keris, tombak dan berbagai peninggalan masa lalu yang merupakan hasil dari kebudayaan leluhur kita,” ujarnya.

‎Menariknya lagi, acara ini juga menghadirkan para praktisi budaya sekaligus mpu pembuat keris. Tercatat ada tiga mpu yang hadir, dua dari daerah lokal serta satu dari Sumenep, Madura, yakni Mpu Ikka Arista yang dikenal sebagai satu-satunya mpu perempuan di Indonesia.

‎Lewat kegiatan ini, panitia ingin ngajak generasi muda buat melihat keris dari perspektif yang lebih luas. Bukan cuma senjata tradisional, tapi juga simbol identitas budaya Nusantara.

‎“Keris sejak dahulu bukan hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga simbol kebudayaan dan identitas leluhur kita. Melalui kegiatan ini kami ingin turut nguri-uri atau melestarikan pusaka Nusantara,” tambahnya.

‎Menurutnya, di tengah derasnya arus modernitas, keris tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa Indonesia yang bahkan sudah diakui dunia sebagai warisan budaya.

‎Hari pertama acara dipenuhi antusias pengunjung yang datang melihat pameran keris dan berbagai pusaka Nusantara.

Malam harinya, suasana makin hidup dengan pertunjukan musik tradisional khas Probolinggo, Seronen, yang dikenal dengan alunan serulingnya yang khas dan memikat.

‎Acara kemudian berlanjut dengan dialog interaktif bersama narasumber utama Jadul Maula, pengasuh Pondok Pesantren Pondok Pesantren Sunan Kaliopak di Yogyakarta.

Ia membawakan tema menarik “Menggali Akar Tradisi, Menggapai Pintu Langit (Keberkahan)”.

‎Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya adalah negara yang memiliki kekuatan besar di bidang kebudayaan.

‎“Indonesia ini sesungguhnya adalah negara dengan super power kebudayaan. Kita memiliki kekayaan adat, tradisi, seni, kuliner, motif batik hingga artefak. Di dalam semua itu ada ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan kearifan para leluhur kita,” jelasnya.

‎Namun ia juga mengingatkan, bahwa tantangan terbesar saat ini adalah mulai tergesernya tradisi oleh berbagai produk modernitas yang sering kali kehilangan nilai kebijaksanaan budaya.

‎“Tradisi luhur kita mulai tergeser oleh benda-benda modern yang tidak memiliki nilai-nilai kebijaksanaan. Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua,” ujarnya.

‎Karena itu, ia menilai kegiatan seperti Ngaji Budaya menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai budaya.

‎Menurutnya, kalau tradisi tidak hanya dipahami bentuknya saja, tetapi juga nilai luhur di dalamnya, maka itu bisa menjadi kekuatan besar untuk membentuk kembali karakter manusia Indonesia.

‎Menariknya, ia juga melihat ada fenomena baru di kalangan generasi muda yang mulai kembali tertarik dengan akar budaya mereka.

‎“Saya melihat generasi muda sekarang mulai kritis. Akan ada titik ketika mereka bosan dengan yang serba kontemporer dan mulai rindu kembali kepada akar tradisinya,” ungkapnya.

‎Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa hampir semua tradisi Nusantara sebenarnya memiliki dimensi spiritual yang kuat.

‎“Tradisi-tradisi kita itu sesungguhnya adalah doa. Para leluhur mengekspresikan doa bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan seni, bunyi-bunyian, dan berbagai ritual yang menyelaraskan jiwa manusia dengan alam dan Tuhannya,” jelasnya.

‎Ia meyakini, jika kesadaran ini kembali tumbuh di tengah masyarakat, maka keberkahan akan hadir dalam kehidupan bersama.

‎“Ini adalah modal sosial budaya kita. Jika kita olah dan kembangkan bersama, maka ini bisa menjadi fondasi kebangkitan bangsa menuju Indonesia Emas,” pungkasnya. (IP)

Comments


bottom of page